简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Optimisme Geopolitik Angkat Bursa Saham Global, Dolar AS Tertekan
Ikhtisar:Mayoritas bursa Asia dan Wall Street bergerak menguat seiring optimisme pasar terhadap draf kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen geopolitik yang mulai mereda ini turut menekan Dolar AS, sementara mata uang kawasan utama merespons rilisnya data-data makroekonomi regional.

Mayoritas pasar saham Asia mencatatkan penguatan pada perdagangan hari Jumat, mengikuti jejak bursa Wall Street yang ditutup pada rekor tertinggi baru.
Sentimen positif pasar didorong oleh harapan meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah, menyusul perkembangan laporan bahwa negosiator Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan tentatif untuk perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
Meski demikian, pasar masih bersikap hati-hati karena kesepakatan tersebut belum mendapat persetujuan akhir dari Presiden AS.
Kabar mengenai kemungkinan dilanjutkannya pelayaran komersial tanpa hambatan melalui Selat Hormuz turut membantu meredakan sedikit kekhawatiran mengenai inflasi global. Imbasnya, harga minyak mentah mengembalikan keuntungan awalnya dan stabil di kisaran $89 per barel.
Dari sisi makroekonomi AS, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti secara tahunan naik ke level 3,3 persen, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tercatat pada angka 1,6 persen atau sedikit lebih lambat dari perkiraan.
Di pasar valuta asing, membaiknya selera risiko global menempatkan Dolar AS ke dalam jalur pelemahan mingguan. Dolar AS terpantau diperdagangkan melemah pada kisaran bawah 159 Yen Jepang.
Pada pasangan lainnya, Dolar Australia diperdagangkan di sekitar level $0,716, dan mata uang Rupee India mencatatkan penguatan tipis terhadap greenback. Emas sebagai salah satu aset lindung nilai terpantau kokoh di atas level $4.500 per ons.
Dari kawasan Asia, Jepang melaporkan serangkaian indikator makro yang solid untuk mengawali kuartal puncaknya. Penjualan ritel Jepang bulan April tumbuh 2,1 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi analis, dengan tingkat pengangguran yang turun ke posisi 2,5 persen.
Sementara itu, inflasi harga konsumen (CPI) inti untuk wilayah metropolitan Tokyo naik sebesar 1,3 persen pada bulan Mei. Deretan data tersebut semakin memberikan landasan pergerakan pasar untuk memproyeksikan kekuatan fundamental di kawasan Asia.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.

