简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Rupiah Sudah Terjun 7,4%
Ikhtisar:Bank Indonesia menahan BI-Rate di level 5,75% pada RDG 21–22 Juli 2026, menjeda siklus pengetatan setelah tiga kali kenaikan kumulatif 100 bps. Rupiah telah terdepresiasi 7,4% year-to-date, sementara inflasi Juni naik ke 3,34% YoY. BI memperluas insentif investasi portofolio asing untuk memperkuat stabilitas nilai tukar.

Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 Juli 2026.
Keputusan ini diumumkan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual Rabu (22/7/2026), menandai jeda dalam siklus pengetatan moneter yang berlangsung sejak awal tahun.
Langkah ini diambil di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global yang tetap tinggi. BI menegaskan kebijakan ini bagian dari bauran strategi untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi dalam sasaran.
Perjalanan Suku Bunga: Tiga Kali Kenaikan Sebelum Jeda
Sebelum jeda Juli 2026, BI telah menaikkan BI-Rate tiga kali antara Mei dan Juni 2026 dengan total kumulatif 100 basis poin.
Kenaikan terakhir terjadi pada RDG Juni 2026 sebesar 25 bps ke level 5,75%. Selain BI-Rate, bank sentral menahan suku bunga Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%.
Tekanan pada Rupiah dan Proyeksi Global
Nilai tukar rupiah per 21 Juli 2026 tercatat Rp17.885 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan akhir Juni 2026 di Rp17.880. Namun secara year-to-date, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 7,40% terhadap dolar AS sejak awal tahun.
Di sisi global, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2026 melambat menjadi 3% dan inflasi global naik ke sekitar 4,5%. Kondisi ini menambah kompleksitas bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Inflasi Domestik dan Target BI
Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan (YoY), naik dari 3,08% pada Mei 2026. BI menargetkan inflasi tetap dalam kisaran 2,5% ± 1% pada 2026 dan 2027.
Peneliti LPEM Universitas Indonesia Jahen F. Rezki menilai sebagian besar tekanan inflasi masih bersumber dari sisi penawaran. Menurutnya, pengetatan moneter lebih lanjut akan memberikan dukungan yang semakin berkurang bagi rupiah dan justru dapat membebani aktivitas ekonomi domestik.
Strategi BI: Insentif dan Kredit ke Sektor Riil
Untuk memperkuat stabilitas rupiah tanpa menaikkan suku bunga, BI memperluas kebijakan insentif guna mendorong aliran masuk investasi portofolio asing.
Secara paralel, BI terus memperkuat kebijakan makroprudensial longgar untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor riil tanpa mengabaikan stabilitas sistem keuangan.
Bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 di kisaran 4,9% hingga 5,7%.
Apa Artinya bagi Pelaku Pasar Valas
Keputusan BI menahan suku bunga di tengah depresiasi rupiah yang signifikan menciptakan dinamika yang perlu dicermati pelaku pasar valuta asing.
Di satu sisi, jeda pengetatan memberi napas bagi pertumbuhan domestik; di sisi lain, selisih suku bunga dengan negara maju tetap memengaruhi daya tarik rupiah.
Bagi pelaku pasar, penting memantau perkembangan kebijakan BI selanjutnya serta pergerakan inflasi dan nilai tukar.
Memahami arah kebijakan moneter dan indikator makroekonomi dapat membantu mengelola eksposur terhadap rupiah secara lebih terukur.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
WikiFX Broker
EBC FINANCIAL GROUP
IC Markets Global
TMGM
FOREX.com
AVATRADE
Exness
EBC FINANCIAL GROUP
IC Markets Global
TMGM
FOREX.com
AVATRADE
Exness










