Ikhtisar:Rupiah melemah 0,15% ke Rp17.675/US$ pada Selasa (15/9/2026) pukul 09.45 WIB, tertekan harga minyak yang bertahan tinggi di US$106,9/barel. Pelemahan ini dipicu kenaikan harga energi yang berpotensi memperlebar kebutuhan valas untuk pembayaran impor minyak dan produk energi, seperti dilaporkan Bloomberg Technoz.

Daftar isiRupiah Dibuka Melemah, lalu Terus Terpuruk
Berdasarkan data Bloomberg Technoz, rupiah dibuka melemah 0,05% ke Rp17.656/US$$ pada perdagangan Selasa pagi. Tak lama berselang, pelemahan berlanjut 0,15% ke Rp17.675/U$$ pada 09:45 WIB.
Di pasar offshore, rupiah sempat berbalik arah pada 09:30 WIB, tapi penguatannya terbatas 0,02% ke Rp17.706/US$. Artinya, di luar negeri rupiah justru lebih lemah.
Sementara itu, data kliksumut.com mencatat kurs rupiah di pasar spot berada di Rp17.670 per dolar AS pada pembukaan, melemah tipis 1 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.669. JISDOR Bank Indonesia pada 14 September 2026 tercatat Rp17.635 per dolar AS.
Angka-angka ini menunjukkan rupiah masih berkutat di kisaran Rp17.600-Rp17.700 per dolar AS. Tekanan datang dari dua arah: harga minyak yang tinggi dan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2023.
Harga Minyak US$106,9: Impor Minyak Makin Mahal, Rupiah Tertekan
Harga minyak mentah dunia bertahan di US$106,9/barel. Bagi Indonesia yang merupakan net importir minyak, ini berarti kebutuhan dolar AS untuk membayar impor minyak membengkak.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip tvonenews.com, mengatakan harga minyak yang melampaui US$100 per barel menjadi tantangan berat bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional. “Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat,” ujarnya, Senin (14/9/2026).
Ketegangan Iran-AS yang belum mereda disebut sebagai pemicu utama. Ibrahim, dalam risetnya yang dikutip digtara.com, mengatakan ketegangan tersebut mengganggu jalur pasokan minyak penting di Timur Tengah. Pertemuan regional antara Iran dan negara-negara Teluk yang sempat dijadwalkan Senin ditunda tanpa batas waktu yang jelas. Akibatnya, Selat Hormuz kemungkinan akan tetap menjadi wilayah yang diperebutkan.
Houthi yang bersekutu dengan Iran juga meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi. Sebagian pengiriman minyak Arab Saudi yang sebelumnya melewati Selat Hormuz dialihkan melalui jalur Bab el-Mandeb, seperti dilaporkan katadata.co.id.
Yield AS 5%: Dolar Makin Menarik, Rupiah Kian Tertekan
Yield US Treasury tenor 10 tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2023. Ini membuat aset berdenominasi dolar AS semakin menarik, sehingga investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Data inflasi AS bulan Agustus menunjukkan indeks harga konsumen inti meningkat 0,3% secara bulanan. Inflasi tahunan mencapai 3,4%, sementara inflasi inti 2,4%. Angka ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini.
Menurut Ibrahim, 88% pasar memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada September 2026. Kenaikan suku bunga The Fed berpotensi meningkatkan daya tarik aset dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Presiden AS Donald Trump justru menyerukan penurunan suku bunga pada Minggu (13/9), melanjutkan kritiknya terhadap kebijakan bank sentral. Ini menciptakan ketegangan politik yang bisa memengaruhi keputusan The Fed.
Pergantian Menkeu: Sentimen Positif, tapi Belum Cukup
Dari dalam negeri, pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara mendapat respons relatif positif dari pasar. Bloomberg Technoz menyebut hal ini bisa menjadi sentimen penyeimbang pelemahan rupiah.
Namun, Ibrahim menilai pelemahan rupiah hari Senin belum dipengaruhi oleh isu reshuffle yang baru mencuat sore hari. “Belum ada, mungkin besok baru,” katanya saat dihubungi katadata.co.id.
Pasar masih wait and see menjelang keputusan FOMC The Fed pada Rabu mendatang. Efek pergantian Menkeu mungkin baru terasa setelah keputusan suku bunga keluar.
Defisit APBN dan Program MBG: Beban Fiskal di Tengah Tekanan
Ibrahim menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi anggaran guna menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3% terhadap PDB. Salah satu pos yang dinilai masih dapat diefisienkan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pagu awal MBG sekitar Rp 330 triliun dinilai cukup besar dibandingkan kesiapan tata kelola program di lapangan. Ibrahim menilai penurunan anggaran MBG dari sekitar Rp 330 triliun menjadi Rp 262,5 triliun, kemudian sekitar Rp 232,5 triliun untuk 72,46 juta penerima, masih dapat diterima. Menurut dia, anggaran MBG bisa ditekan di bawah Rp 200 triliun apabila diperlukan.
Selain MBG, efisiensi bisa dilakukan pada belanja administratif kementerian dan lembaga, seperti perjalanan dinas, rapat di hotel, sewa tempat, konsumsi kegiatan, pengadaan rutin, konsultansi, honorarium, dan kegiatan seremonial.
Dampak ke Trading: Apa yang Perlu Anda Pantau
Bagi trader USD/IDR, pelemahan rupiah berarti posisi long dolar AS diuntungkan. Namun, perhatikan bahwa rupiah masih berkutat di kisaran Rp17.600-Rp17.700. Jika harga minyak terus tinggi, kebutuhan valas untuk impor minyak meningkat, yang bisa memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan rupiah lebih dalam.
Yield AS 5% juga membuat carry trade ke Indonesia kurang menarik. Selisih suku bunga antara BI-Rate 5,75% dan yield AS 5% hanya 0,75%, tipis untuk menarik aliran dana asing. Jika The Fed menaikkan suku bunga, selisih ini bisa menyempit atau bahkan terbalik, yang akan semakin menekan rupiah.
Perhatikan juga data perdagangan Indonesia yang diperkirakan kembali defisit. Lukman, seperti dikutip liputan6.com, memperkirakan defisit sekitar 300 juta dolar AS akibat lonjakan impor yang naik 24%, sementara inflasi year on year diperkirakan naik dari 2,88% ke 3,13%.
Kapan Rupiah Bisa Berbalik? Ini Jadwal yang Harus Dicermati
Keputusan suku bunga The Fed akan diumumkan pada Rabu (16/9/2026) waktu setempat. Ini adalah katalis terbesar pekan ini. Jika The Fed menaikkan suku bunga, dolar AS bisa menguat lebih lanjut, menekan rupiah. Jika tidak, rupiah bisa sedikit bernapas.
Data inflasi Indonesia juga akan dirilis bulan ini. Jika inflasi naik ke 3,13% seperti perkiraan, BI mungkin akan mempertahankan BI-Rate atau bahkan menaikkannya untuk menahan pelemahan rupiah.
Pantau juga perkembangan harga minyak. Jika ketegangan Iran-AS mereda dan harga minyak turun, tekanan terhadap rupiah akan berkurang. Sebaliknya, jika harga minyak terus naik, rupiah bisa menembus level Rp17.700.
Kesimpulan: Rupiah di Persimpangan, Tapi Bukan Berarti Bebas Risiko
Rupiah melemah 0,15% ke Rp17.675/US$ pada Selasa pagi, dipicu harga minyak tinggi dan yield AS yang menembus 5%. Ini adalah kombinasi yang tidak nyaman bagi Indonesia sebagai net importir minyak.
Pergantian Menkeu memberikan sedikit angin segar, tapi belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan. Pasar masih menunggu keputusan The Fed.
Untuk trader, ini saatnya memperhatikan manajemen risiko. Jangan lupa untuk memantau kalender ekonomi dan berita global. Keputusan The Fed Rabu nanti akan menjadi penentu arah rupiah selanjutnya.
Sumber Informasi
- Postingan X @BloombergTZ
- Bloomberg Technoz: Harga Minyak Masih Tekan Rupiah
- kliksumut.com: Dolar Hari Ini 15 September 2026
- digtara.com: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.710
- market.bisnis.com: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.668
- market.bisnis.com: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.669
- katadata.co.id: Rupiah Loyo ke 17.669
- tvonenews.com: Rupiah Menguat ke Rp17.605
- liputan6.com: Rupiah Melemah ke 17.744